29.8 C
Jakarta

Kesiapsiagaan Terhadap Lumpy Skin Disease

Lumpy Skin Disease (LSD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dari family Poxviridae yang menyebabkan lesi/kerusakan pada kulit dan/atau kematian akibat infeksi sekunder pada ruminansi spesifik yaitu sapi dan kerbau. Vektor mekanik pembawa virus penyakit ini adalah serangga penghisap darah, seperti nyamuk dan lalat sehingga rentan berdampak pada peternak rakyat. Kerugian ekonomi diantaranya dapat disebabkan akibat terjadi penurunan produksi susu dan dapat menyebabkan gangguan reproduksi pada sapi jantan maupun betina.

Secara historis LSD pertama kali muncul di Afrika pada tahun 1929. Berdasarkan informasi yang diperoleh melalui Sistem Informasi Kesehatan Dunia (WAHIS-OIE), penyakit LSD yang merupakan salah satu penyakit wajib lapor OIE kini telah menyebar di Asia. Kasus yang semula dilaporkan di China dan India pada tahun 2019, serta Bhutan dan Vietnam tahun 2020, telah menyebar ke Thailand pada Maret 2021. Laporan terakhir pada bulan Juni 2021 terjadi wabah di Kamboja dan Malaysia.

Hingga saat ini, penyakit ini belum pernah dilaporkan di Indonesia. Mengingat ancaman masuknya penyakit tersebut ke Indonesia cukup besar dan dapat menimbulkan dampak kerugian ekonomi tinggi, diperlukan tindakan antisipatif dan mitigasi risiko mencegah masuknya penyakit ini ke wilayah Republik Indonesia, serta penguatan kapasitas penyakit LSD untuk petugas kesehatan hewan di seluruh Indonesia baik ditingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota dalam upaya kesiagaan terhadap penyakit ini.

Terkait dengan hal tersebut, Direktorat Kesehatan Hewan bekerjasama dengan Australia Indonesia Health Security Partnership (AIHSP) telah menyelenggarakan Seri Webinar Kesiapsiagaan Terhadap LSD pada tanggal 22 Juli, 29 Juli, dan 6 Agustus 2021. Seri pertama membahas tentang informasi umum (pengenalan, situasi dan ancaman penyakit) serta diagnostik klinis LSD, kemudian pada seri kedua membahas tentang peneguhan diagnosa (sampling dan diagnosis laboratorium), serta pada seri ketiga (terakhir) fokus pada respon cepat, kontrol dan eradikasi, serta rencana kontinjensi LSD di Indonesia.

Webinar Kesiapsiagaan LSD Seri 1

Rekaman Webinar LSD Seri 1

Webinar Kesiapsiagaan LSD Seri 2

flyer-webinar-lsd-seri-2Panelis dan Narasumber
1. Dr. drh. Nuryani Zainuddin, M.Si
2. Dr. Ratna B. Gurung | Lumpy Skin Disease, A Bhutanese experience on Field investigation, Epidemiology, Sampling and Laboratory testing
3. Dr. Tim Bowden | Laboratory Diagnostics for Lumpy Skin Disease Virus
4. drh. Indrawati Sendow, M.Sc
5. drh. Budi Santosa
6. drh. Rohmadiyanto, M.Sc

Review
Review Webinar LSD Seri 2

Rekaman Webinar LSD Seri 2

Webinar Kesiapsiagaan LSD Seri 3

10Panelis dan Narasumber
1. Dr. drh. Nuryani Zainuddin, M.Si
2. drh. Wisnu Wasisa Putra, MP | Pengawasan Lalu Lintas Hewan dalam Rangka Mitigasi Risiko Penyakit Lumpy Skin Diseases (LSD)
3. Dr. Eeva Tuppurainen (LM, MSc, PhD) | Field Response for Lumpy Skin Disease Outbreak
4. drh. Tri Satya Naipospos, M.Phil, Ph.D | Rencana Kontijensi Lumpy Skin Disease (LSD) di Indonesia

Review
Review Webinar LSD Seri 3

Rekaman Webinar LSD Seri 3

Infografis

FAQ's

Apa sajakah gejala klinis LSD?

Demam, penurunan produksi, discharge pada mata dan hidung, lesi dan nodul pada kulit.

Apakah tanda klinis benjolan pada sapi dan kerbau selalu dihubungkan dengan LSD?

Semua tanda klinis benjolan harus dianggap sebagai suspek LSD dan dilaporkan ke isikhnas. Nodul atau benjolan kulit pada LSD umumnya muncul 48 jam setelah terjadinya demam dan biasanya muncul di beberapa tempat predileksi seperti kepala, leher, ambing, alat kelamin, dan perineum. Konfirmasi LSD hanya dapat dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium.

Apa yang menjadi faktor risiko masuknya LSD ke Indonesia?

Pemasukan ternak dari negara tertular, namun apabila negara tertular ada dalam satu daratan dengan Indonesia, maka vektor dapat menjadi salah satu sumber penularan.

Bagaimana cara penularan LSD?

Penularan secara mekanis dapat terjadi melalui vektor,  kontak secara langsung dengan ternak terinfeksi dan semen, secara tidak langsung melalui praktek yang tidak higienes dari petugas (iatrogenik) dan transmisi intrauterine.

Apa saja yang dapat menjadi vektor virus LSD?

Vektor virus LSD yaitu nyamuk aedes dan nyamuk culex, lalat kuda (Stomoxys sp dan Haematopota spp ) dan lalat tanduk (Hematobia irritans), migas penggigit, caplak keras Riphicephalus appendiculatus dan Ambyomma heberaeum.

Bagaimana cara deteksi cepat LSD?

  1. Kenali tanda klinis LSD
  2. Laporkan ke petugas Kesehatan hewan setempat
  3. Lakukan konfirmasi laboratorium

Bagaimana cara mendiagnosis LSD?

Diagnosa awal LSD dapat dilakukan berdasarkan tanda klinis. Untuk konfirmasi hanya dapat dilakukan dengan pemeriksaan laboratorium.  Pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan dengan cara mendeteksi virus LSD dengan metode isolasi virus dan molekuler (PCR).  Selain deteksi virus,  deteksi antibodi juga dapat dilakukan untuk sebagai bagian dari konfirmasi laboratorium untuk melihat ada tidaknya paparan virus LSD. Deteksi antibodi dapat dilakukan dengan metode VNT, ELISA, IFAT, AGID, dan IPMA

Sampel apa saja yang dapat diambil untuk pemeriksaan laboratorium?

Jenis sampel berikut dapat diambil, namun disesuaikan dengan jenis pemeriksaan laboratorium yang akan dilakukan.

  • Nodul kulit
  • Keropeng pada kulit
  • Darah
  • Discharge hidung, mulut, dan mata
  • Semen
  • Susu
  • Urine
  • Feses

Laboratorium mana saja yang dapat melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap LSD ?

Saat ini laboratorium yang dapat melakukan pemeriksaan LSD adalah sebagai berikut:

  1. Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor;
  2. Balai Besar Veteriner Wates
  3. Balai Veteriner Bukittinggi

Tindakan apa yang harus dilakukan bila ditemukan kasus positif LSD?

Secara teknis tindakan berikut dapat dilakukan untuk penanganan kasus positif LSD, namun harus disesuaikan dengan pedoman teknis dari Kementerian Pertanian

  • Pembatasan pergerakan / lalu lintas ternak dan karantina
  • Vaksinasi
  • Stamping out (ternak terinfeksi dan ternak kontak langsung) jika kasus LSD dapat dideteksi dengan cepat dan belum menyebar ke wilayah yang luas
  • Disposal produk hewan yang terkontaminasi, untuk menghilangkan sumber infeksi
  • Dekontaminasi fasilitas, peralatan dan benda-benda lain
  • Pengendalian vektor
  • Penelusuran (tracing) dan surveilans untuk menentukan sumber dan perluasan infeksi
  • Kampanye Penyadaran Masyarakat (Public awareness)

Apakah LSD dapat diobati?

Tidak ada pengobatan khusus untuk LSD. Pengobatan hanya dilakukan untuk mengurangi gejala dari LSD dengan menggunakan anti radang dan untuk mengurangi infeksi sekunder dengan menggunakan antibiotik.

Apa saja diagnosa banding untuk LSD?

  • Pseudo lumpy skin disease (bovine herpes virus 2)
  • Gigitan serangga
  • Urtikaria
  • Fotosensitisasi
  • Pseudocowpox (parapox virus)
  • Demodekosis
  • Bovine popular stomatitis (parapox virus)
  • Besnoitosis
  • Onchoerciasis

Penyakit-penyakit tersebut menunjukkan gejala yang sama dengan LSD seperti demam dan lesi-lesi di kulit namun perbedaan terletak pada lesi yang lebih superfisial dan lokasi lesi yang spesifik. Konfirmasi LSD hanya dapat dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium.

Apakah ada vaksin terhadap LSD ?

Sebagian besar vaksin LSD yang ada adalah  live attenuated; baik vaksin homolog (berdasarkan strain Neethling LSDV) maupun heterolog (berdasarkan sheep pox/ goat pox virus). Selain dalam bentuk live attenuated, vaksin dalam bentuk inaktif juga sudah tersedia. Vaksin LSD belum tersedia di Indonesia karena status Indonesia masih bebas LSD.