Wabah Anthrax Pacitan

0
323

Peta epidemiologi anthraks di jawa timur bertambah luas, setelah wabah anthraks di blitar tahun 2014, kejadian mortalitas pada ternak sapi muncul di pacitan pada tahun 2016 ini. Secara resmi titik awal kejadian anthraks di pacitan dari laporan Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Pacitan tanggal 8 Agustus 2016. Kemudian tim Ditkeswan melakukan investigasi lapang untuk menelusuri sumber kasus dan menghimpun data penyakit untuk menentukan faktor risiko yang saling berinteraksi antara host, agen dan lingkungan. Tim Ditkeswan melakukan tindakan-tindakan penelusuran kasus di lapangan sbb: 1. Melakukan wawancara terhadap para peternak/kepala dusun/pengelola peternakan/jagal di Kabupaten Pacitan yang ternaknya dilaporkan mati atau dipotong paksa dengan tanda klinis anthraks di 3 (tiga) kecamatan, yaitu di Dusun Jelok, Desa Cemeng, Kecamatan Donorojo, di Dusun Krajan, Desa Pringkuku, Kecamatan Pringkuku, Loka Penelitian Sapi Potong Grati Pasuruan di Kecamatan Pringkuku, dan Dusun Jeruk, Desa Gondosari, Kecamatan Punung. Demikian juga terhadap petugas kesehatan hewan lapangan 2. Melakukan wawancara terhadap pedagang hewan atau blantik/jagal dan petugas pasar di Pasar Hewan Pon Kabupaten Pacitan, serta di Pasar Hewan Pracimantoro Kabupaten Wonogiri 3. Melakukan rapat koordinasi di Pasar Hewan Pracimantoro Wonogiri dengan Kepala Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan Kabupaten Wonogiri berserta jajarannya.

Gambaran epidemiologi dan hasil pengumpulan data selama melakukan investigasi lapang dengan secara SSI (Semi Structure Interview) adalah : 1). Pada akhir bulan Mei 2016 dilaporkan 2 ekor kambing mati mendadak dari 4 ekor kambing milik peternak bernama Sukatmin di Dusun Jelok, Desa Cemeng, Kecamatan Donorojo. Dua ekor sisanya dijual. Pada tanggal 18 Juni 2016 peternak tersebut membeli sapi bibit di Pasar Hewan Pracimantoro Kabupaten Wonogiri. Sapi ditempatkan dikandang yang bersebelahan dengan kandang kambing. Beberapa hari kemudian sapi tersebut sakit dengan tanda klinis mirip anthrax. Sapi dipotong paksa dan dijual kepada pedagang/jagal di Kecamatan Pringkuku dan dagingnya diperjualbelikan di pasar terdekat 2). Sejak itu dilaporkan banyak hewan sakit, baik sapi maupun kambing, dengan tanda klinis mirip anthrax. Sapi yang sakit kebanyakan dipotong paksa dan dagingnya diperjualbelikan, sebagian kecil lainnya mati mendadak. Sedangkan kambing yang sakit hampir semuanya mati mendadak 3). Sapi dan kambing yang sakit dan mati dengan tanda klinis anthrax dilaporkan berada dalam satu kandang, satu area yang berdekatan, milik satu keluarga besar yang saling berkunjung, petugas kandang yang berasal dari daerah tertular, dan berdekatan dengan tempat pemotongan hewan (TPH) 4). Pada periode Mei – 12 Agustus 2016 dilaporkan kematian sapi 14 ekor dan puluhan ekor kambing. Umumnya kematian kambing tidak dilaporkan karena harganya relatif lebih murah dibanding sapi. Kejadian kematian sapi dan kambing di Kabupaten Pacitan dilaporkan di 3 (tiga) kecamatan, yaitu di Kecamatan Donorojo, Kecamatan Pringkuku dan Kecamatan Punung. Kematian ternak terakhir dilaporkan terjadi pada sapi di Loka Penelitian Sapi Potong Grati Pasuruan di Kecamatan Pringkuku pada tanggal 9 Agustus 2016 5). Berdasar hasil uji isolasi, identifikasi dan PCR oleh Balai Besar Veteriner Wates Yogyakarta tanggal 9 Agustus 2016 terhadap sampel yang diuji didiagnosa positif anthrax 6). Populasi hewan rentan di Kabupaten Pacitan tercatat 254.182 ekor. Populasi hewan rentan di 3 (tiga) kecamatan tertular anthrax tercatat 66.325 ekor (sapi 26.111 ekor, kerbau 30 ekor dan kambing/domba 40.184 ekor. Populasi hewan rentan di 2 (dua) kecamatan yang berbatasan dengan kecamatan tertular, yaitu Kecamatan Pacitan dan Arjosari) tercatat 30.250 ekor (sapi 6.965 ekor, kerbau 69 ekor dan kambing/domba 23.216 ekor 7). Banyak kematian pada sapi dan kambing dengan tanda klinis mirip anthrax sudah terjadi sejak bulan Januari 2016 meskipun tidak dilaporkan secara resmi oleh peternak 8). Gejala klinis anthrax bentuk kulit yang menginfeksi manusia dilaporkan terjadi pada 5 (lima) orang di Kecamatan Pringkuku. Tiga orang terinfeksi bulan Mei 2016 dan sudah sembuh, satu orang terinfeksi bulan Juni 2016 yang belum sembuh sempurna setelah diobati di Puskesmas. Satu orang memperlihatkan kepada Tim bekas tanda klinis anthrax yang dilaporkan terjadi pada tahun 2014. Orang yang suspect anthrax tersebut terinfeksi setelah menangani sapi yang dipotong dengan tanda klinis mirip anthrax 9). Meskipun sudah ada peraturan daerah Provinsi Jawa Timur tentang lalu-lintas ternak yang melarang ternak masuk ke wilayah Provinsi Jawa Timur, dan hewan yang dilalu-lintaskan harus disertai Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH), namun menurut informasi dari pedagang ternak yang diwawancara di pasar hewan, ternak dapat berlalu-lintas ke dan dari Kabupaten Pacitan tanpa disertai SKKH 10). Masuknya ternak ke Kabupaten Pacitan antara lain dari Pasar Pracimantoro Kabupaten Wonogiri. Pasar ini lokasinya berbatasan dengan Kecamatan Donorojo Kabupaten Pacitan. Di Pasar Hewan Pracimantoro Wonogiri pada setiap hari pasaran Wage diperjualbelikan sekitar 450 ekor sapi dan sekitar 400 ekor kambing. Sapi berasal dari Provinsi DIY (Kabupaten Bantul), Provinsi Jawa Tengah (Kabupaten Semarang, Sragen, Boyolali, Sukoharjo, Klaten, Grobogan, Blora, Karanganyar, Pati) dan Jawa Timur (Magetan dan Ngawi). Daerah Semarang, Sragen dan Boyolali merupakan daerah endemis anthrax 11). Diduga Kabupaten Pacitan tertular anthrax sebelum bulan Juni 2016 atau bahkan sebelum tahun 2016. Penularan diduga karena lalu lintas ternak asal daerah tertular.

Sejak munculnya kasus anthraks di pacitan, instansi teknis terkait telah melakukan tindakan cepat bersifat responsif dalam rangka meminimalkan kasus dan mencegah transmisi penyakit menyebar ke areal lain yang masih bebas, yaitu 1). Ditjen. PKH telah mendistribusikan vaksin anthraks 100.000 dosis, antibiotik 96 botol, roboransia 48 botol, PPE dan leaflet anthraks 2). Surveilans oleh Tim Balai Besar Veteriner Wates 3). Pemberian antibiotik terhadap hewan rentan yang sekandang dan satu lingkungan/desa dengan hewan mati 4). Pengawasan dan pelarangan lalu lintas ternak untuk keluar atau masuk desa tertular anthraks 5). Vaksinasi anthrax di kecamatan tertular dan kecamatan berbatasan yang berisiko tinggi 6). Desinfeksi terhadap kandang dan lingkungan 7). Penanganan bangkai. Dalam rangka untuk menekan dan meningkatkan efektifitas pengendalian kasus dan agar kasus cepat terkendali,tim Ditkeswan menyampaikan saran tindak lanjut yaitu 1). Menetapkan Kabupaten Pacitan sebagai daerah wabah anthrax dengan keputusan Menteri Pertanian 2). Membentuk Tim Terpadu Pengendalian Anthrax di Kabupaten Pacitan 3). Surveilans aktif di daerah berisiko tinggi tertular anthrax, baik di kecamatan lain di Kabupaten Pacitan maupun Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah 4). Menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian tentang lalu lintas ternak antar pulau, antar provinsi, antar kabupaten dalam provinsi, antar kecamatan dalam kabupaten/kota 5). Meningkatkan pengawasan lalu-lintas ternak.

Sapi milik Bapak Sukatmin
Sapi milik Bapak Sukatmin
Kematian Sapi Milik kelompok Sido Makmur II
Kematian Sapi Milik kelompok Sido Makmur II
Pengambilan sampel tanah oleh Tim Investigasi BBVet. Wates
Pengambilan sampel tanah oleh Tim Investigasi BBVet. Wates
Tempat Pemotongan Hewan (TPH) sapi terjangkit anthraks milik Bapak Tukiran
Tempat Pemotongan Hewan (TPH) sapi terjangkit anthraks milik Bapak Tukiran

Penulis : drh. Ermawanto

LEAVE A REPLY