Satwa Liar Sebagai Hewan Kesayangan?

0
1453

Penulis: drh. Dhony Kartika Nugroho (Medik Veteriner Muda-Direktorat Kesehatan Hewan)

Melihat gambar-gambar hewan atau satwa di atas tentunya terlihat sangatlah lucu dan menggemaskan. Honey bears, Sugar gliders, Corn snakes, Green iguanas, Black panthers, Flying squirrels, Bearded dragons, Veiled chameleons, Spotted pythons, Leopard geckos, bahkan Poison dart frogs dan Pot-bellied pigs hanyalah sebagian kecil satwa liar yang diperjualbelikan sebagai hewan kesayangan. Diseluruh dunia, diperkirakan 40.000 primata, 4 juta jenis burung, 640.000 reptil, dan 350 juta ikan tropis diperjualbelikan. Perdagangan internasional satwa liar diperkirakan mencapai 6 miliar US dolar. Mungkin sangat mudah untuk membelinya namun tentu saja akan memberikan pengaruh tidak baik terhadap kehidupan hewannya, kehidupan manusia, serta kehidupan lingkungan tempat tinggalnya. Dibanyak tempat satwa liar sangat dilarang diperjualbelikan.

 Dampak negatif bagi satwa atau hewan

Menurut para ahli, untuk merubah serigala menjadi anjing peliharaan akan membutuhkan setidaknya 5 ribu tahun dan mungkin lebih dari 10 ribu tahun. Terdapat ribuan perbedaan antara satwa liar dan hewan terdomestikasi. Hewan yang sudah terdomestikasi seperti anjing dan kucing tidak dapat bertahan baik tanpa manusia, namun bagi satwa liar akan berakibat tidak baik bila hidup bersama manusia.

Hanya sedikit informasi yang kita tahu tentang kebutuhan fisiologis satwa liar. Banyak satwa liar yang berpindah-pindah hingga ratusan kilometer dalam sehari untuk suatu alasan. Hal ini berarti bahwa kita tidak bisa memenuhi kebutuhan mereka dengan cara memeliharanya. Ketika satwa-satwa tersebut tidak mau patuh, maka satwa-satwa tersebut akan dikurung, dirantai, atau bahkan dipukuli. Bahkan pemilik akan akan mencabut gigi atau cakar agar tidak dapat membahayakan pemiliknya. Kondisi malnutrisi, stres, trauma, gangguan perilaku, bahkan kematian sangat sering dijumpai. Sifat alami sebagian besar satwa liar tidak akan memperlihatkan atau menyembunyikan rasa atau tanda sakit. Untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan medis yang tepat bagi satwa liar tidaklah mudah – terlebih apabila termasuk satwa illegal untuk dipelihara.

Banyak penyakit pada satwa liar yang mudah menular ke hewan domestik. Beberapa penyakit dari satwa liar yang dapat menular ke hewan domestik antara lain:
  • Anthrax
  • Avian Influenza
  • Bovine tuberculosis
  • Penyakit mulut dan kuku
  • Fowl cholera
  • Leptospirosis
  • Newcastle disease
  • Rabies
  • Myxomatosis
  • Classical Swine Fever
  • African Swine Fever
  • Brucella melatensis
  • Brucella abortus
  • West Nile Virus
  • Bluetongue
  • Epizootic Hemorrhagic Disease
  • Chronic Wasting Disease

Penyakit-penyakit tersebut dapat menyebabkan kerugian ekonomi bagi peternak maupun Negara dan dapat mengancam kestabilan pangan bersumber hewan. Selain itu, satwa liar dapat bertindak sebagai reservoar agen penyakit bagi hewan domestik yang menyebabkan dampak negatif bagi perdagangan internasional, misalnya suatu Negara yang endemis ataupun terjadi wabah Bovine tuberculosis dan penyakit mulut dan kuku tidak dapat melakukan ekspor ternak.

 Dampak negatif bagi manusia

Perilaku satwa liar dapat berubah karena cuaca ataupun siklus hidupnya dengan cara yang tidak kita pahami. Mereka jarang mudah terikat dengan pemiliknya. Hewan peliharaan berupa primata, kucing besar, dan reptil banyak yang melakukan serangan dan melukai pemilik dan orang lain bahkan berakibat sangat fatal.

Pada awal tahun 1970 di Amerika, The United States – Food and Drug Administration (USFDA) melarang distribusi dan penjualan bayi kura-kura Red-eared slider turtles setelah seperempat juta anak-anak didiagnosa tertular salmonella yang berasal dari satwa tersebut.

Renquist dan Whitney pada tahun 1987 melaporkan bahwa banyak penyakit yang dapat ditularkan dari hewan primata ke manusia. Mereka melaporkan bahwa sampai dengan 25 % dari kera yang diimpor dan terdomestikasi memiliki virus herpes tipe B. Selain itu, meskipun nilai estimasi bervariasi, namun para ahli sepakat bahwa setidaknya satu dari tiga hewan reptil menjadi “rumah” bagi salmonella dan shigella. Persentase hewan reptil dengan salmonella sekitar 77 – 90 %. Data dariThe U.S. Fish and Wildlife Service menyebutkan bahwa 90 % dari Iguana hijau hasil impor membawa beberapa jenis bekteri pencernaan.

Data OIE tahun 2010 menyebutkan bahwa setidaknya ada 144 penyakit pada manusia yang disebabkan agen patogen pada satwa liar yang menjadi perhatian di sektor kesehatan manusia dalam 60 tahun terakhir. Lebih dari 70% dari emerging infectious diseases berasal dari hewan khususnya satwa liar. Beberapa penyakit zoonosis yang berasal dari satwa liar yaitu:

  • AIDS
  • Rabies
  • Hanta Virus
  • West Nile Virus
  • Avian Influenza
  • Chagas Disease
  • Yellow Fever
  • Leishmaniasis
  • Brucellosis
  • Tuberculosis (M. bovis)
  • Leptospirosis
  • Anthrax
  • Plague
  • Trichinellosis
  • Nipah virus
  • Ebola Virus
  • Monkey Pox

 

Selain itu terdapat beberapa penyakit dan agen penyakit yang lain yang dapat menular ke manusia yaitu Chlamydiasis, Giardiasis, Hepatitis A, Ringworm, Measles, Marburg virus, Molloscum contagiosum, Dermatophytosis, Candidiasis, Infeksi Escherichia coli O157:H7, Yaba virus, Campylobacteriosis, Klebsiellosis, dan Amebiasis. Selain itu juga infeksi dari beberapa cacing nematode dan cestoda, serta arthropoda. Meskipun beberapa dari penyakit tersebut tidak mengancam jiwa manusia, namun beberapa sangatlah serius, bahkan fatal seperti rabies.

Satwa liar dapat menularkan baik secara langsung maupun tidak langsung ke manusia, sebagai contoh:

  1. AIDS disebabkan oleh 2 human immunodeficiency viruses, masing-masing berasal dariimmunodeficiency virus yang secara normal ditemukan di primata liar Afrika: HIV-1 dari Simpanse dan HIV-2 dari monyet Sooty Mangabee. Masing-masing virus tersebut mampu beradaptasi pada manusia melalui perubahan, dan sekarang telah menjadi permasalah bagi kehidupan manusia karena AIDS dapat ditularkan antar manusia.
  2. Virus Yellow fever terpelihara di populasi monyet liar di sebagian besar Negara Amerika Selatan dan Afrika. Nyamuk membawa virus dan menularkan antar monyet, kemudian dari monyet ke manusia, dan dari manusia ke manusia. WHO mengestimasi sekitar 200.000 orang menderita penyakit ini setiap tahunnya, dimana 30.000 orang meninggal.
  3. Chagas disease disebabkan parasit protozoa, Trypanosoma cruzi, yang menginfestasi secara luas hewan mamalia liar dan domestic bahkan manusia. Ditularkan dari satwa mamalia liar ke hewan mamalia domestik dan manusia melalui serangga penghisap darah dari keluarga Triatominae. Dari 8 – 11 juta orang di Amerika Latin menderita akibat penyakit ini.
  4. Virus Rabies ditularkan ke manusia dari satwa liar dan hewan domestik secara langsung melalui luka gigitan. Lebih dari 55.000 orang meninggal akibat rabies per tahun, sebagian besar di Afrika (24.000 orang) dan Asia (31.000 orang), dan sebagian besar terinfeksi akibat gigitan anjing. Di tahun 2003, satwa liar menjadi sumber infeksi utama bagi masyarakat di Amerika Selatan. Sebagian strain virus rabies terpelihara secara khusus dalam populasi beberapa spesies kelelawar atau karnivora liar.

Dampak negatif bagi untuk lingkungan

Satwa liar adalah hewan yang masih memiliki sifat liar, berasal dari lingkungan alam liar yang seharusnya tidak tersentuh manusia. Hal ini sangatlah sulit untuk mengembangbiakan satwa liar. Salah satu dari sekian banyak hal yang bahkan para ahli tidak mengerti adalah apa yang hewan-hewan tersebut perlukan untuk berkembang biak. Untuk memenuhi permintaan para pemelihara satwa liar, penjual akan mencari langsung sampai ke lingkungan asalnya. Hal ini tidak hanya mengganggu ekosistem asalnya namun juga mengganggu ekosistem lingkungan tujuan apabila satwa-satwa tersebut lepas atau melarikan diri.

Kebanyakan pemelihara yang membeli satwa liar tidak tahu apa yang akan mereka hadapi. Akhirnya, pemelihara mungkin menyadari bahwa tidak mungkin untuk memenuhi kebutuhan hewannya dan tidak baik bagi satwanya. Kebanyakan tempat penampungan tidak dilengkapi perlengkapan untuk menangani satwa liar. Kebun binatang mungkin dapat menampung tapi sangat terbatas dan memiliki persyaratan yang ketat untuk pemasukan satwa baru.

Menghadapi permasalah tersebut maka beberapa orang pemilik akan melepaskan satwa liarnya, hal ini tentu akan membahayakan. Hewan tersebut dapat menularkan penyakit bagi hewan asli atau hewan domestik bahkan dapat membunuhnya. Melepas satwa sembarangan juga tidak baik bagi satwanya karena tidak mampu beradaptasi dihabitat baru tersebut. Pada akhirnya, pihak-pihak yang berwenang dan kelompok masyarakat lainnya harus memikul tanggung jawab besar untuk menangkap, memelihara ataupun mengobati dan melepaskan kembali ke lingkungan aslinya.

Haruslah kita mulai menggunakan akal sehat kita dan etika untuk mencegah kekejaman dan kerusakan yang dapat disebabkan oleh pemeliharaan satwa liar bahkan untuk alas an hewan kesayangan. Satwa liar bukan merupakan hewan peliharaan yang tepat. Mari kita bertindak untuk menjaga rumah alami mereka dan tidak memindahkan mereka dari habitat aslinya.

[DKN_2014]

LEAVE A REPLY