Kerangka kerja One Health adalah solusi untuk penanganan COVID-19 saat ini dan kesiapan menghadapi ancaman pandemi di masa yang akan datang, dan dokter hewan memiliki peran penting di dalamnya.

Setiap hari Sabtu terakhir di Bulan April dirayakan sebagai Hari Kedokteran Hewan Sedunia (World Veterinary Day/WVD), dan pada tahun 2021 ini, WVD jatuh pada tanggal 24 April. Sejarah perayaan WVD dimulai tahun 2001, yaitu saat World Veterinary Association (WVA) yang beranggotakan lebih dari 70 asosiasi kedokteran hewan nasional dari berbagai negara memulai kegiatan yang kemudian menjadi perayaan Hari Kedokteran Hewan Sedunia.

Tujuan Hari Kedokteran Hewan Sedunia adalah untuk memajukan profesi kedokteran hewan dan mengupayakan peningkatan kesejahteraan hewan dan manusia, lingkungan, keamanan pangan, serta praktik lalu lintas (transportasi) dan karantina hewan.

Dalam perayaan setiap tahunnya, ditetapkan tema yang berbeda untuk perayaan WVD ini. Misalnya, tema pertama perayaan WVD adalah “Rabies” yang tujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang vaksinasi dan sterilisasi anjing serta pencegahan rabies.

Pada tahun 2021, tema yang diangkat adalah “Peran dokter hewan Terhadap krisis COVID-19.” Dalam rangka perayaan WVD tahun 2021, Direktorat Kesehatan Hewan Bersama Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB-PDHI) menyelenggarakan seminar daring dengan tema yang sama sepert tema WVD 2021. Seminar daring ini menghadirkan banyak pakar di tingkat nasional dan internasional.

Sesi pembukaan dimulai dengan sambutan Ketua Umum PB-PDHI, Dr. drh. M. Munawaroh, MM. yang menyampaikan bahwa momen Hari Kedokteran Hewan Sedunia ini menunjukkan bahwa profesi dokter hewan sangat penting. Selain dalam upaya penyehatan hewan, dokter hewan menurutnya berkontribusi dalam kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Tema “Peran Dokter Hewan Terhadap Krisis COVID-19” dianggapnya tepat, mengingat situasi yang sedang dihadapi Indonesia, dan ada peran penting profesi dokter hewan dalam membantu penanggulangan dan  mengurangi dampak krisis COVID-19 ini.

whatsapp-image-2021-04-24-at-12-30-54-pmHal senada disampaikan oleh Dr. drh. Didik Budijanto, MKes., Direktur Pencegahan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis (P2PTVZ), Kementerian Kesehatan. Dalam penjelasannya disebutkan bahwa masih ada penyakit-penyakit hewan lain yang dapat menulari manusia (zoonosis) yang harus diwaspadai karena menimbulkan masalah kesehatan masyarakat seperti rabies, anthrax, dan avian influenza, serta kewaspadaan terhadap penyakit hewan yang memiliki potensi menjadi pandemi di masa yang akan datang.

Potensi masalah kesehatan masyarakat dan ancaman pandemi beberapa zoonosis ini diamini oleh Dr. John Weaver dari Australia Indonesia Health Security Program (AIHSP) yang memfasilitasi acara seminar. Menurutnya dalam rangka mencegah kejadian tersebut harus ada penguatan dan keseimbangan untuk semua sektor terkait yakni kesehatan masyarakat, kesehatan hewan, dan juga kesehatan lingkungan. Dr. John Weaver juga menggarisbawahi pentingnya pencegahan dan deteksi di mana profesi dokter hewan memiliki peran besar di dalamnya.

Sementara itu Drh. Fadjar Sumping Tjatur Rasa, PhD., Pelaksana tugas Direktur Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) menyampaikan salah satu peran dokter hewan adalah keterlibatan laboratorium veteriner (kesehatan hewan) dalam pemeriksaan sampel COVID-19 untuk penegakan diagnosa kasus dari manusia.

Dalam penjelasannya, disampaikan bahwa Ditjen PKH melalui unit pelaksana teknis (UPT) laboratorium veteriner telah berkontribusi dalam pemeriksaan sampel COVID-19 manusia di beberapa wilayah. Sampai pertengahan April 2021, lebih dari 80 ribu sampel COVID-19 telah diperiksa di lima UPT Kementan yakni Balai Besar Wates dan Maros serta Balai Veteriner Bukittinggi, Subang, dan Banjarbaru.

Fadjar juga menjelaskan bahwa di awal pandemi, saat alat pelindung diri dan peralatan pendukung pengambilan sampel sulit didapat, Ditjen PKH telah menyumbangkan peralatan dan bahan-bahannya untuk para petugas kesehatan agar dapat melakukan pelayanan dengan aman.

One health adalah solusi

Dalam diskusi, para narasumber seminar yakni Dr. Ihab El Masry (FAO), Dr. William B. Karesh (EcoHealth Alliance), Dr. drh. Joko Pamungkas, MSc., (IPB University), dan Prof. drh. Wiku Adisasmita, MSc., PhD., (Satgas COVID-19 dan Universitas Indonesia) sepakat bahwa kerangka kerja One Health adalah solusi untuk penanganan COVID-19 saat ini dan kesiapan menghadapi ancaman pandemi di masa yang akan datang.

Dr. Ihab El Masry pada awalnya menjelaskan bahwa virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 adalah berasal dari hewan, hipotesa ini mengandalkan studi filogenetik yang menyarankan dua skenario utama untuk menjelaskan asal usul SARS-CoV-2 yaitu: (1) adaptasi pada inang hewan (host) sebelum transfer zoonosis, atau (2) adaptasi pada manusia setelah transfer zoonosis.

Menurutnya berdasarkan hasil investigasi tim internasional gabungan WHO yang telah memeriksa dan membahas empat skenario utama untuk kejadian COVID-19 di Tiongkok dengan  hasil menunjukkan bahwa kejadian dimulai dengan masuknya virus melalui inang perantara diikuti oleh penularan zoonosis merupakan skenario yang paling memungkinkan (very likely), sedangkan skenario lain seperti penularan zoonosis langsung (spillover) dan melalui rantai dingin / makanan masih dimungkinkan. Adapun kejadian melalui insiden laboratorium dianggap sangat tidak mungkin terjadi (extremely unlikely).

Selanjutnya Dr. Ihab El Masry menegaskan dalam paparannya bahwa khusus untuk COVID-19 ini, masih diperlukan adanya studi dan investigasi lapang lebih lanjut serta analisa laboratorium dan epidemiologi secara terintegrasi melalui kerangka kerja one health.

Hal serupa disampaikan juga oleh Dr. William B. Karesh. Dalam paparannya Dr. Karesh menyoroti kurangnya perhatian untuk pilar impelentasi dibidang pencegahan (prevent) dan deteksi (detect) penyakit sebelum agen penyakit tersebut menjadi masalah. Saat ini menurutnya fokus masih terlalu banyak di pilar implementasi respons (respond) yang dianggapnya sudah terlalu terlambat.  Dr. Karesh juga menegaskan bahwa di area pilar pencegahan dan deteksi ini dokter hewan dapat berkontribusi lebih banyak.

Dr. Karesh juga banyak menyoroti tentang perkembangan penyakit infeksi baru (PIB) semala 50 tahun terakhir dan apa yang menjadi faktor pemicu (drivers) munculnya PIB tersebut seperti perubahan pemanfaatan lahan (deforestasi dan degradasi habitat), perubahan industri pangan dan pertanian (intensifikasi), perdagangan dan perjalanan internasional, serta perubahan iklim dan cuaca. Di akhir, Dr. Karesh menegaskan bahwa ada banyak kesempatan untuk memperkuat koordinasi melalui kerangka kerja operasional one health di mana ada peran besar dokter hewan di dalamnya.

Penjelasan Dr. Karesh kemudian dilengkapi oleh Dr. drh. Joko Pamungkas, MSc., yang menggambarkan studinya di Indonesia dalam rangka surveilans agen penyakit (virus) pada satwa liar yang berpotensi menulari hewan peliharaan dan manusia. Menurutnya terdapat tiga taxa utama yakni Chiroptera (kelelawar), Rodentia (rodensia), dan Primata yang memiliki virus yang berpotensi menulari manusia.emergenceinfectious-disease

Dari studinya, Dr. Joko menyampaikan bahwa terdapat tiga keluarga virus yang paling banyak ditemukan yaitu Coronaviridae, Paramyxoviridae, dan Genus Influenza. Menurutnya deteksi secara rutin melalui surveilans di satwa liar dapat membantu untuk mempersiapkan respon cepat baik di tingkat hewan domestik maupun di manusia. Dalam kesimpulannya, Dr Joko Pamungkas menegaskan pentingnya kerja sama one health melalui komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi antar sektor terkait, serta peran penting dokter hewan dalam pelaksanaan surveilans pada satwa liar.

Sementara itu, Prof. drh. Wiku Adisasmita, MSc., PhD., mengawali paparannya dengan menyampaikan bahwa salah satu peran dokter hewan adalah memberikan pemahaman tentang penyakit infeksi baru (PIB) kepada masyarakat, serta mengajak pemangku kepentingan terkait bahwa penanganan zoonosis tidak bisa dilakukan secara terpisah-pisah atau terkotak-kotak.

Senada dengan pembicara sebelumnya, Prof. Wiku menyampaikan bahwa dalam konteks one health keseimbangan antara inang (host), agen penyakit, dan lingkungan sangat penting, di mana profesi dokter hewan mempunyai peran besar di dalamnya. Dalam pelaksanaannya masing-masing profesi tersebut harus dapat bekerja sama dan tidak bekerja sendiri-sendiri.

Profesor dari Universitas Indonesia juga memberikan penjelasan bahwa kompetensi utama one health sangat penting dalam menghadapi masalah kompleks, seperti halnya COVID-19.  Prof. Wiku berpesan agar dokter hewan dapat memperkuat kompetensi tersebut, sehingga dapat berkontribusi lebih besar di masa yang akan datang. (red)

 

Pewarta: Drh. Pebi Purwo Suseno

Penyunting isi dan tata letak: Drh. Megawaty Iskandar

LEAVE A REPLY