whatsapp-image-2018-05-03-at-8-59-12-amPenyakit Flu Burung, terus menjadi ancaman serius di dunia. Sejak tahun 2003 hingga tahun 2017, Indonesia mencatat angka korban manusia akibat virus Flu Burung subtipe H5N1 yaitu mencapai 168 jiwa. Angka kejadian tertinggi berada di wilayah Jakarta dan sekitarnya, sebagai dampak dari tingginya tingkat perdagangan unggas melalui pasar unggas hidup yang memasuki DKI Jakarta.

“Kami mencatat angka lalu lintas unggas hidup yang masuk ke Ibu kota mencapai 1 juta unggas setiap harinya,” ujar Kepala Subdirektorat Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan, Arief Wicaksono dalam acara lokakarya penentuan pasar binaan Kementerian Pertanian dan FAO  di Jakarta pada 26 April 2018.

Kondisi ini yang mendorong Kementerian Pertanian bersama dengan FAO ECTAD melalui program USAID EPT2, melakukan pemilihan pasar binaan sebagai model pasar unggas yang sehat. Dengan keberadaan pasar yang sehat, diharapkan dapat mengendalikan penyakit Flu Burung di sepanjang rantai pasar unggas di wilayah Jabodetabek.

Dalam diskusi yang dihadiri para pemangku kepentingan ini, disebutkan beberapa kriteria untuk menentukan pasar dan RPHU yang akan dijadikan proyek percontohan pasar binaan Kementan bersama dengan FAO ECTAD. Kriteria tersebut antara lain; merupakan pasar rakyat dan diutamakan bagian dari program pasar sehat dan pasar SNI serta memenuhi syarat-syarat biosekuriti di pasar seperti tidak ada penjualan dan pemotongan unggas hidup di dalam pasar dan hanya menjual karkas unggas yang diperoleh dari RPHU di luar area pasar.

Arief menjelaskan, kegiataan pasar binaan ini dilakukan untuk mendukung program restukturisasi rantai pasar unggas melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, peningkatan kualitas kegiatan hygiene dan sanitasi di pasar unggas hidup dan sosialisasi pasar unggas yang sehat bagi konsumen dan pedagang unggas, serta peningkatan pembersihan dan desinfeksi untuk kendaraan pengangkut unggas dalam mencegah penularan virus Flu Burung kembali ke peternakan.

“Tapi kegiatan ini kami tidak bisa sendiri. Perlu dukungan dari pihak-pihak terkait terutama yang memiliki program sejalan seperti di Kementerian Kesehatan dalam program  pasar sehat dan kementerian perdagangan dalam program pasar SNI,” jelasnya.

Senada dengan Arief, Suhartarti dari Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta menyayangkan tidak adanya sinkronisasi antar kementerian/dinas satu dengan lainnya, terkait dengan kegiatan pembinaan pasar. Menurutnya, tiap kementerian atau dinas telah memiliki kegiatan yang baik untuk menciptakan pasar yang sehat namun sayang tidak berjalan beriringan. “Kami sangat mendukung kegiatan ini. Semoga antara kegiatan yang satu dan yang lain yang serupa, bisa dijembatani,” jelasnya.

whatsapp-image-2018-05-03-at-8-57-21-amKegiatan intervensi rantai pasar unggas Kementan bersama dengan FAO, telah dilakukan sejak tahun 2009. Di tahun 2017, pilot pasar binaan telah dilaksanakan di pasar Sukatani, kota Depok dalam bentuk penguatan kapasitas dan peralatan kebersihan pasar serta membangun kolaborasi dengan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Perdagangan. Untuk tahun 2018, kegiatan serupa ditargetkan dapat terlaksana minimal di 3 pasar dan 2 RPHU (rumah potong hewan umum) di wilayah Jabodetabek.

Di akhir diskusi, para peserta dari wilayah Jabodetabek mengajukan sebanyak 7 pasar dan 3 RPU untuk dijadikan pilot pasar Binaan Kementan dan FAO ECTAD Indonesia. Dari 7 Pasar yang diajukan akan dipilih 3 pasar dan 1 RPU yang akan dijadikan pilot pasar binaan tersebut. (red-keswan)

 

LEAVE A REPLY