Dukung Cabang Olah Raga Berkuda pada ASIAN GAMES XVIII, Indonesia Ditetapkan Sebagai Zona Bebas Penyakit Kuda (EDFZ)

0
326

Konsep zona sementara yang bebas dari penyakit kuda (Equine Disease Free Zone/EDFZ) merupakan perpanjangan dari konsep zonasi sebagaimana tercantum dalam OIE Terrestrial Animal Health Code (Chapter 4.3: Zoning and Compartmentalization) dengan prinsip perlindungan kuda di wilayah EDFZ terhadap penyakit yang mungkin terjadi di wilayah lain di luar wilayah EDFZ. Penerapan EDFZ dilakukan melalui pemisahan subpopulasi kuda dari populasi umum kuda maupun spesies lain, dengan penerapan biosekuriti, standar dan prosedur sertifikasi, perencanaan kontinjensi, identifikasi populasi kuda di EFDZ dan kontrol lalulintas hewan. Penerapan EDFZ memuferryngkinkan bagi suatu negara untuk menjadi tuan rumah kejuaraan olahraga berkuda internasional, ketika pengendalian dan pemberantasan penyakit kuda di seluruh wilayah negara tidak dapat dicapai dalam waktu singkat.

Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games XVIII tahun 2018, dimana salah satu cabang olahraga yang diperlombakan adalah berkuda. Lalu lintas kuda dari luar negeri mempersyaratkan status EDFZ di lokasi penyelenggaraan cabang olah raga berkuda, dengan negara asal yang didominasi oleh negara-negara anggota Uni Eropa. Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan bersama para pemangku kepentingan terkait menerapkan konsep EDFZ untuk pengakuan OIE dan Komisi Uni eropa (EU).

Penetapan EDFZ di Indonesia dilakukan melalui mekanisme self declaration kepada Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE), dengan prosedur penetapan yang mengacu pada pedoman Principles for the Temporary Establishment of Equine Disease Free Zones. Pelaksanaan penetapan EDFZ dilakukan dalam tiga tahapan rencana kerja yaitu:
1.Pelaksanaan Tahap Pertama dengan periode pelaksanaan sampai Juli 2017, kegiatan meliputi:
a.sensus dan pemetaan sebaran spasial kuda di JABODETABEK.
b.identifikasi kuda dan membangun sistem ketertelusuran kuda di JABODETABEK.
c.penentuan zona surveilans EDFZ.
d.surveilan penyakit kuda untuk menentukan prevalensi beberapa penyakit kuda antara lain: Glanders, Equine Infectious Anemia, Surra dan Piroplasmosis.
e.Surveilan untuk menunjukkan status bebas penyakit African Horse Sickness dan Equine Influenza.
f.pengujian laboratorium di Balai Veteriner Subang, Balai Besar Penelitian Veteriner dan Laboratorium Rujukan OIE terkait.
g.surveilans vektor di Jakarta International Equestrian Park Pulomas.
h.investigasi suspek penyakit Japanese encephalitis, Equine rhinopneumonitis dan Strangles.
i.dokumentasi informasi retrospektif serta peningkatan surveilans pasif.

2.Pelaksanaan Tahap Kedua dengan periode Agustus 2017 sampai Februari 2018, dengan kegiatan sebagai berikut:
a.pemaparan hasil sementara pada General Assembly Asian Equestrian Federation (AEF) di Jakarta pada tanggal 8 – 10 Agustus 2017.
b.survey penyakit hewan dan vektor lanjutan (tahap kedua).
c.penyusunan berkas untuk self-declaration kepada OIE dan untuk pengakuan regionalisasi kepada EU,
d.identifikasi Instalasi Karantina Hewan Sementara (IKHS) untuk kuda non-EU approved country.
e.penyusunan biosecurity plans untuk lokasi perlombaan, transportasi dan karantina.
f.penyusunan persyaratan teknis kesehatan hewan dan model sertifikat veteriner pemasukan sementara kuda untuk berkompetisi di Asian Games, dan
g.penyusunan persyaratan dan model sertifikat veteriner pemasukan kuda dalam negeri ke Surveillance zone

3.Pelaksanaan Tahap Ketiga dengan periode pelaksanaan Februari sampai Agustus 2018, dengan kegiatan:
a.penyempurnaan peraturan (bila diperlukan).
b.pengosongan lokasi perlombaan di JIEP Pulo Mas dan sekitarnya dari kuda.
c.penerapan Biosecurity plans di test events.
d.penyusunan rencana kontinjensi (contingency plans).
e.penerapan biosecurity yang ketat terhadap kuda Indonesia yang akan bertanding, dan
f.keputusan karantina untuk kuda asal non-EU approved country.

Berikut 18 penyakit hewan yang telah ditentukan status bebas dalam kerangka EDFZ yaitu African Horse Sickness, Anthrax, Contagious Equine Metritis, Dourine, Equine Enchepalomyelitis (eastern and western), Equine Infectious Anaemia, Equine Influenza, Equine Piroplasmosis, Equine Rhinopneumonitis, Equine Viral Arteritis, Glanders, Japanese Encephalitis, Rabies, Vesicular Stomatitis, Venezuelan Equine Encephalomyelitis, West Nile Fever, Strangles, Hendra dan Nipah Virus. Sehingga status Indonesia untuk wilayah Pulo Mas sebagai zona inti dan infrastruktur sepanjang Bandara Internasional Soekarno Hatta dan bandara Halim Perdanakusuma sebagai wilayah EDFZ. Ketentuan ini resmi dideklarasi oleh Komisi Uni Eropa pada 26 Maret 2018, dengan masa berlaku sampai dengan 30 September 2018 untuk kepentingan perlombaan olah raga berkuda ASIAN GAMES XVIII.

LEAVE A REPLY