Peranan Obat Hewan Sediaan Biologik Dalam Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit

0
3047

Kebijakan dan program pemerintah di bidang kesehatan hewan bertujuan untuk melindungi masyarakat dan hewan dari ancaman penyakit hewan. Untuk mendukung program tersebut, selain mempertahankan status bebas penyakit, peningkatan status kesehatan hewan, penguatan pelayanan kesehatan hewan, pemberantasan penyakit hewan strategis secara bertahap, faktor yang tidak kalah penting adalanya ketersediaan obat hewan yang bermutu, berkhasiat dan aman. Sediaan obat hewan digolongkan menjadi empat yaitu sediaan biologik, farmasetik, premiks, dan sediaan alami. Sediaan biologik sendiri merupakan  obat hewan  yang  dihasilkan melalui proses biologik pada hewan atau jaringan hewan untuk menimbulkan kekebalan, mendiagnosis  suatu  penyakit atau  menyembuhkan penyakit melalui proses  imunologik,  antara  lain  berupa  vaksin,  sera  (antisera),  hasil rekayasa genetika, dan bahan diagnostika biologik. Sediaan biologik yang biasa kita kenal adalah vaksin, yaitu sediaan yang mengandung bahan antigen dan digunakan untuk memicu kekebalan aktif dan spesifik melawan penyakit yang disebabkan oleh bakteri, toksin, virus, jamur atau parasit. Vaksin terbagi atas dua jenis yaitu aktif dan inaktif. Vaksin aktif adalah galur spesifik yang keganasannya telah dilemahkan atau bakteri/virus alami yang patogenesisnya rendah tetapi dapat menimbulkan rangsangan kekebalan terhadap galur patogen dari bakteri/virus yang sama. Sedangkan vaksin inaktif adalah virus/bakteri yang telah diinaktifkan sedemikian rupa atau komponen antigenik sehingga imunogenesitasnya tetap dipertahankan. Vaksin virus adalah sediaan yang dibuat dari virus atau komponen antigeniknya yang dibuat dengan cara ditumbuhkan pada biakan jaringan, mikroorganisme atau hewan hidup lainnya atau dengan cara lain yang sesuai. Bentuk sediaan dapat berupa cairan atau kering beku yang terdiri 1 atau lebih virus atau sub unit viral atau peptidanya, dapat bersifat aktif atau inaktif, sedangkan vaksin bakteri dapat dibuat dari biakan yang ditumbuhkan pada media padat atau cair, atau dengan cara lain yang sesuai. Kita lebih mengenal vaksin virus seperti Avian Influenza, Infectious Bronchitis (IB), Infectious Bursal Disease (IBD), Newcastle Disease (ND), Rabies. Vaksin tersebut sangat diperlukan dalam memberikan imunitas terhadap penyakit yang dapat mengakibatkan kerugian yang besar dan berdampak luas bagi kesehatan hewan dan masyarakat. Selain itu vaksin bakteri juga tidak kalah penting antara lain Mycoplasma gallisepticum, Salmonella enteridis (SE) dan Coryza. Seiring dengan kemajuan teknologi dan komunikasi, media online banyak memberitakan tentang wabah suatu penyakit, seperti antrax, akan tetapi kadang pemberitaan yang diberikan tidak tepat karena keterbatasan informasi, misalnya pemberitaan tentang antrak yang diberitakan sebagai sediaan virus, padahal antrax merupakan sediaan bakteri. Kita selaku pihak yang lebih memahami dunia kesehatan hewan seharusnya memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pemberitaan yang tidak tepat tersebut.

Dalam rangka pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan perlu adanya tahapan pengamatan dan pengidentifikasi penyakit, pencegahan penyakit hewan, pengamanan penyakit hewan, pemberantasan penyakit hewan dan pengobatan penyakit hewan. Sediaan biologik merupakan rangkaian kegiatan pencegahan penyakit hewan yang tercantum dalam Undang-Undang Peternakan Dan Kesehatan Hewan, Nomor 18 Tahun 2009 Jo Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014, Pasal 49 Ayat (3) yaitu “Untuk menjamin ketersediaan dan keberlanjutan sediaan biologik, biang isolat lokal disimpan di laboratorium dan/atau lembaga penelitian dan pengembangan veteriner”. Sedangkan Pasal 53 ayat (2) yaitu “Pembuatan sediaan biologik yang biang isolatnya tidak ada di Indonesia yang bertujuan untuk melindungi kepentingan nasional dan membantu pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan di negara lain wajib memenuhi persyaratan keamanan hayati yang tinggi”. Sediaan biologik yang berupa vaksin dengan cara vaksinasi berperan sangat penting dalam program pencegahan dan pemberantasan penyakit hewan menular strategis (PHMS) dimana lima penyakit yang biasa disingkat RABAH yaitu Rabies, Anthrax, Brucellosis, AI dan Hog Cholera. Penanganan hewan dengan vaksinasi secara rutin merupakan bagian dari pencegahan penyakit hewan yang dapat mengurangi prevalensi penyakit sebagai bagian dari program pencegahan dan pemberantasan penyakit secara regional, dengan meningkatkan level kekebalan kelompok hewan yang merupakan langkah awal dalam pemberantasan penyakit, dengan upaya-upaya pemberantasan dimaksudkan untuk mengurangi prevalensi penularan ke tingkat sasaran yang diharapkan. Untuk itu pemerintah telah melaksanakan berbagai upaya melalui kebijakan, strategi dan kegiatan antara lain melalui program vaksinasi untuk kesehatan hewan. Program vaksinasi pada hewan merupakan salah satu upaya yang efektif dan efisien untuk melindungi hewan terhadap terjadinya penyakit pada hewan terutama terhadap penyakit hewan menular strategis (PHMS) yang kemungkinan dapat menular pada manusia. Untuk mencapai tujuan tersebut maka diperlukan vaksin dan tindakan vaksinasi yang aman, dengan meminimalkan faktor-faktor instrinsik yang mempengaruhi diantaranya, penyimpanan, distribusi vaksin dan cara pemberian vaksin. Untuk menjamin kualitas vaksin dapat dilakukan dengan mempertahankan potensi vaksin melalui pengelolaan rantai vaksin (cold chain) yang benar mulai dari produsen/importir, distributor, sampai dengan peternak yang menggunakan vaksin tersebut.

Peran Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) dalam pengujian sediaan biologik juga sangat penting karena UPT dibawah Direktorat Kesehatan Hewan ini yang mempunyai tupoksi menjamin mutu obat hewan yang beredar di Indonesia. Apabila mutu vaksin baik tentunya sangat membantu pemerintah dalam menyelesaikan penanganan program PHMS secara cepat dan tepat. Dalam melakukan pengujian BBPMSOH menggunakan standar rujukan dari Farmakope Obat Hewan Indonesia (FOHI) sediaan biologik, Asean Standar For Animal Vaccine, British Farmakope dan OIE. Saat ini BPPMSOH telah memiliki BSL-3 yang sedianya akan dilakukan untuk uji sediaan biologik. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal sebaiknya dilakukan pengujiannya secara lengkap di laboratorium dengan fasilitas BSL-3, karena mampu melindungi personel, produk dan lingkungan aman dari bahaya penyakit zoonosis. Keunggulan dari BSL-3 adalah fasilitas tersebut didukung dengan penguji yang kompeten dan terlatih bekerja di BSL-3, mempunyai sarana biocontaiment dengan tekanan negatif sehingga virus atau bakteri dengan virulensi tinggi tidak akan mencemari lingkungan sekita serta aman untuk penguji yang telah dilengkapi dengan alat pelindung diri (PAD) sesuai dengan standar WHO dalam mengerjakan vaksin zoonosis. Meski biaya perawatan sangat mahal, keberadaan laboratorium BSL-3 menjadi aspek yang menguatkan sistem kesehatan hewan nasional untuk mencegah, mendeteksi dan merespon kemunculan wabah penyakit.

Sediaan biologik yang dikawal oleh pemerintah selaku regulator agar memenuhi syarat aman, bermutu dan berkhasiat dan pelaku usaha yang bertanggung jawab atas produknya, serta peran masyarakat dalam pelaksanaan penggunakan sediaan biologik secara baik diharapkan lebih mengoptimalkan dalam keberhasilan program pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan menular strategis.

 

LEAVE A REPLY