Detasering Rabies di Provinsi Kalimantan Barat

0
440

Dengan situasi rabies di Provinsi Kalimantan Barat pada tahun 2016 yang mengalami penyebaran di Kabupaten Bengkayang, Landak, Sintang, Sekadau dan Sanggau maka vaksinasi merupakan salah satu langkah penanggulangan penyakit yang harus ditingkatkan.

Dalam upaya pelaksanaan penanggulangan penyakit, maka pada tanggal 28 Agustus – 2 September 2016, Direktorat Kesehatan Hewan menurunkan tim detasering ke Provinsi Kalimantan Barat yang dibagi menjadi 2 tim. Tim 1 yang terdiri dari drh. Wahyu Eko Kurniawan, drh. Buhori Muslim dan drh. Ernawati bertugas di Kabupaten Sekadau dan tim 2 yaitu drh. Ermawanto, M. Yunus, Tachori, A.Md., drh. Dollik Donando, bertugas di Kabupaten Sanggau, dengan didampingi petugas dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalimantan Barat, membantu pelaksanaan vaksinasi petugas Dinas Kabupaten Sanggau dan Sekadau.

Tim detasering tersebut membawa bantuan operasional pelaksanaan vaksinasi antara lain: Collar sebagai penanda vaksinasi sebanyak 1.200 buah, Spuit 3 cc sebanyak 1.800 buah, KIE kit rabies dan Vaksin anti rabies (VAR) sebanyak 60 vial. VAR ini diutamakan untuk petugas vaksinator Kabupaten Sanggau sebanyak 10 orang. Petugas vaksinator Kabupaten Sanggau belum mendapatkan VAR sehingga belum berani melaksanakan vaksinasi.

 

Kabupaten Sekadau

 

 

Kabupaten Sekadau merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat yang memiliki luas sebesar 5.444,30 Km² atau 3,71% dari luas wilayah Provinsi Kalimantan Barat, Kabupaten Sekadau berbatasan dengan Kabupaten Sanggau di sebelah barat, Kabupaten Sintang di sebelah timur, Kabupaten Sintang di sebelah utara dan Kabupaten Ketapang di sebelah selatan.
Pada bulan Mei 2016 di Desa Landau Apin Kecamatan Nanga Mahap, telah didapatkan 1 sampel positif rabies yang merupakan kasus positif pertama di Kabupaten Sekadau. Mengingat lokasi Kabupaten Sekadau berbatasan langsung dengan Kabupaten tertular dan Nanga Mahap merupakan perbatasan dengan Kabupaten Ketapang, maka segera diperluas cakupan vaksinasi yang dilakukan.

Estimasi populasi anjing di Kabupaten Sekadau sekitar 9.192 ekor yang hampir seluruhnya merupakan anjing luar (anjing yang diliarkan oleh pemiliknya). Peran anjing di wilayah ini antara lain sebagai penjaga rumah/kebun, berburu serta bagi sebagian besar penduduk merupakan ternak untuk dikonsumsi.

Tim detasering melakukan vaksinasi ke Kecamatan Sekadau Hilir, Sekadau Hulu dan Belitang Hilir dan berhasil melakukan vaksinasi sebanyak 907 dosis. Semua anjing dewasa yang sudah divaksin diberi tanda berupa collar, sedangkan anak anjing ditandai dengan pita.

Hingga tanggal 2 September 2016, realisasi vaksinasi di Kabupaten Sekadau yang telah dilakukan sebanyak 5.306 ekor (53%). Kasus gigitan yang terjadi pada sepanjang tahun 2016 ada 15 kasus dengan 1 orang yang lyssa di kecamatan Sekadau Hilir.

Pada saat ini stok vaksin yang tertinggal hanya sekitar 400 dosis, dan akan segera dikirim lagi oleh Dinas Provinsi. Kondisi lemari es penyimpanan vaksin yang terdiri dari 2 kulkas rumah tangga 2 pintu masih cukup baik, hanya perlu dibersihkan bunga es nya secara berkala
Pihak Dinas setempat tidak melakukan eliminasi, namun di wilayah tertentu ada kebijakan desa yang menyatakan bahwa anjing di sekitar yang tidak divaksin/tidak ber-collar akan dieliminasi oleh penduduk setempat dengan cara ditembak.

Adapun kendala yang ditemukan pada saat pelaksanaan antara lain:
• Medan yang cukup berat terutama apabila sedang musim hujan
• Perlunya biaya operasional untuk transportasi petugas mengingat beberapa wilayah membutuhkan biaya untuk menyebrangi sungai dengan menggunakan perahu motor.
• Kurangnya vaksin dan operasional vaksinasi
• Kurangnya kesadaran dan komitmen pihak Dinas yang membawahi masalah kesehatan hewan, sehingga tidak ada cukup anggaran terkait rabies dan pendampingan yang cukup terhadap tim vaksinasi.
• Masih kurang pahamnya petugas tentang ‘cold chain’ yang baik untuk menangani vaksin rabies sehingga dikhawatirkan antibody yang didapat dari vaksinasi tersebut kurang optimal. Hal ini terbukti masih ditemukannya tempat penyimpanan vaksin ataupun cara vaksinator membawa vaksin ke lapangan yang belum sesuai dengan pelatihan yang telah diberikan.

 

LEAVE A REPLY