Pembebasan Rabies Tahun 2016

0
352
Pembebasan Rabies Tahun 2016

Sampai saat ini sebagian besar provinsi di Indonesia masih tertular penyakir rabies, hanya 9 provinsi yang bebas rabies dari 34 povinsi di Indonesia, yaitu Provinsi Kepulauan Riau, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Papua dan Papua Barat. Namun ada beberapa pulau di Indonesia yang statusnya bebas historis dan sudah dideklarasikan secara resmi bebas rabies melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian, pada tahun 2015 yaitu Pulau Meranti (Provinsi Riau), Pulau Mentawai (Provinsi Sumatera Barat) dan Pulau Enggano (Provinsi Bengkulu). Sedangkan Pulau Weh (Provinsi Aceh) dan Pulau Pisang (Provinsi Lampung) pada tahun 2016.

Upaya penetapan status bebas rabies dilaksanakan berdasarkan ketentuan dari Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE) yaitu diperlukan adanya surveilans dengan hasil tidak ditemukannya kasus pada manusia maupun hewan selama 2 (dua) tahun berturut-turut dan tidak ditemukannya kasus pada hewan karnivora diluar karantina selama 6 (enam) bulan terakhir.

1. Pembebasan Rabies Pulau Weh
Wilayah Pulau Weh merupakan wilayah Administratif Kota Sabang Provinsi Aceh, merupakan daerah wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara karena keindahan alam dan pantainya. Di pulau inilah titik 0 (nol) kilometer Indonesia dimulai.

Dalam rangka mendukung pembuktian Pulau Weh bebas rabies, surveilans aktif telah dilaksanakan oleh Balai Veteriner Medan sejak tahun 2012 sampai dengan tahun 2014 bersama dengan Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan dan Kehutanan Kota Sabang. Tahun 2015 surveilans dilaksanakan oleh UPTD Laboratorium Kesehatan Hewan Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Provinsi Aceh. Seluruh pengujian dilakukan di Balai Veteriner Medan dengan metoda uji Seller dan Fluorescent Antibody Technique (FAT) sesuai dengan persyaratan uji yang ditetapkan oleh OIE.

Berdasarkan data selama 4 tahun berturut-turut (tahun 2012-2015) yang diperoleh melalui surveilans aktif serta adanya data pendukung/sekunder dari instansi terkait di Pulau Weh, terhadap sampel otak anjing yang besaran sampelnya dilakukan berdasarkan pendekatan deteksi penyakit dan dengan pengujian baku OIE yaitu uji Seller dan Fluorescent Antibody Technique (FAT) menunjukkan tidak ditemukan antigen/virus rabies pada anjing. Selain itu dari data Wilayah Kerja Karantina Pertanian Pelabuhan Laut Sabang, Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh, dalam kurun waktu tahun 2012-2015 lalu lintas HPR yang masuk ke Pulau Weh tergolong kecil yakni 2 (dua) ekor anjing dan 2 ekor kucing.

2. Pembebasan Rabies Pulau Pisang
Pulau Pisang adalah sebuah Pulau kecil yang terletak paling barat, langsung menghadap Samudera Hindia, secara administrasi merupakan sebuah kecamatan di wilayah Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung. Pulau ini menyimpan banyak potensi menarik dari pesona alam yang mempunyai karakteristik yang sangat alami, lautnya terdapat banyak lumba-lumba menjadi kelebihannya, kearifan lokal, budaya dan keunikan-keunikan lain yang membuat kita tertarik mengunjungi pulau ini. Pulau Pisang yang memprioritaskan sektor wisata dan ekonomi ingin daerahnya diakui bebas penyakit rabies secara formal dan ilmiah.

Berdasarkan hasil surveilans aktif yang dilakukan Balai Veteriner Lampung bekerjasama dengan Dinas Peternakan, Pertanian dan Kelautan Kabupaten Pesisir Barat dan Dinas Peternakan dan Kesehatan Provinsi Lampung yang telah dilakukan sejak tahun 2014 – 2015 dan adanya data pendukung dari instansi terkait tidak ditemukan virus rabies baik pada HPR maupun kasus gigitan pada manusia. Hasil pengujian menunjukkan seluruh 27 sampel liur anjing dan kucing adalah negatif PCR yang berarti tidak ada antigen rabies yang ditemukan. Dengan dapat dibuktikannya Kecamatan Pulau Pisang bebas terhadap penyakit rabies secara ilmiah

Hasil dari kegiatan pembuktian bebas rabies di Pulau weh dan Pulau Pisang kemudian dibahas dalam rapat Komisi Ahli Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat, yang mengkaji hasil surveilans dan program pengendalian rabies yang telah dilaksanakan di Pulau Weh dan Pulau Pisang. Berdasarkan hasil kajian, usulan pembebasan rabies di Pulau Weh Provinsi Aceh dan Pulau Pisang Provinsi Lampung dapat diterima secara teknis, dan dinyatakan dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian.

Meskipun Pulau Weh dan Pulau Pisang sudah dinyatakan bebas secara formal, tanggung jawab untuk tetap mempertahankan status tersebut tidak bisa dilupakan. Perlunya komitmen Pemerintah Daerah dalam mempertahankan status bebas rabies Pulau Weh dan Pulau Pisang, khususnya dalam penyediaan anggaran APBD dengan melakukan penguatan kapasitas SDM, pengawasan lalu lintas HPR dan kapasitas laboratorium kesehatan hewan. Selain itu diperlukan penguatan sistem surveilans pasif sindromik dan respon cepat yang efektif di kabupaten/kota di Provinsi Aceh dan Provinsi Lampung yang endemik rabies, seperti sistem Tata laksana Kasus Gigitan (Takgit) yang terintegrasi dengan sektor kesehatan untuk meningkatkan sensitivitas surveilans dan kesiagaan darurat terhadap indikasi kasus rabies.

LEAVE A REPLY