Evaluasi Penanganan Gangguan Reproduksi 2016

0
605
Evaluasi Penanganan Gangguan Reproduksi 2016

Optimalisasi reproduksi  adalah  salah satu kegiatan strategis Direktorat Kesehatan Hewan yang menjadi program Direktorat Jenderal  Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam rangka mensukseskan program peningkatan populasi ternak dalam penyediaan protein asal hewan untuk pemenuhan konsumsi masyarakat Indonesia. Kegiatan tersebut salah satunya berupa kegiatan Penanganan Gangguan Reproduksi dengan penganggaran melalui dana APBN tahun 2016 yang dialokasikan langsung ke Unit Pelaksana Teknis (UPT)  Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan juga dialokasikan ke daerah. Dengan adanya penghematan tahun 2016 anggaran kegiatan optimalisasi reproduksi banyak berkurang yang akan mempengaruhi capaian output yang diharapkan terutama dana pemantauan dan pelaporan realisasi penanganan gangrep. Untuk mengantisipasi permasalahan tersebut, maka dilakukan revisi anggaran pusat yang diperuntukkan untuk UPT Direktorat Kesehatan Hewan dengan sistem swakelola sebagai pengawalan terhadap capaian outcome kegiatan Penanganan Gangguan Reproduksi tahun 2015.

Sebagai langkah awal, dilaksanakan evaluasi terhadap capaian kegiatan penanganan gangguan reproduksi pada tahun 2015 yang dilakukan pendampingan oleh UPT Direktorat Kesehatan Hewan sebagai dasar rencana peruntukan anggaran tersebut ke depan dan perencanaan upaya perbaikan yang dilakukan secara menyeluruh baik menyangkut ketepatan program, SDM, fasilitas sarana dan prasarana, kelembagaan,sistem pelayanan serta perangkat pedoman sebagai acuan petugas penanganan gangguan reproduksi di lapangan.

Hasil evaluasi sementara capaian realisasi penanganan gangrep UPT Dit.Keswan pada tahun 2015 sebesar 83,6% dengan tingkat kesembuhan 68,06%. Hypofungsi ovaria masih menjadi gangguan reproduksi yang paling sering terjadi (35,13%) diikuti dengan silent heat (15,7%) dan repeat breeder (10,72%). Faktor pelaporan hasil penanganan gangguan reproduksi yang belum optimal masih menjadi salah satu kendala, untuk itu revisi anggaran tersebut difokuskan untuk pengambilan data penanganan gangguan reproduksi pada tahun 2015. Target data tersebut antara lain jumlah realisasi penanganan gangrep 2015, data ternak betina yang mengalami kesembuhan dan tidak sembuh, data ternak sembuh yang di IB atau di kawin alam, data kebuntingan dan data kelahiran. Kedepan diharapkan berdasar data lapangan yang relevan dapat dilakukan penataan manajemen reproduksi yang baik sehingga bisa mengurangi kasus gangguan reproduksi dan peningkatan produksi dan populasi sapi di Indonesia.

LEAVE A REPLY